Langsung ke konten utama
Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari berbagai bahasa seperti bahasa Melayu, Sansekerta, Arab, Inggris dan bahkan dari bahasa-bahasa daerah. Oleh karena itu, ejaannya dapat berubah seaktu-waktu seiring perkembangan teknologi dan informasi. Namun, pada dasarnya bahasa Indonesia terbentuk dari bahasa Melayu yang sudah sejak dulu ada. Padatanggal 23 Mei 1972, Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Mashuri menandatangani sebuah pernyataan bersama. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah system ejaan Latin bagi bahasa Melayu (“Rumi” dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama(ERB). Daftar Ejaan Bahasa Indonesia yang pernah dipakai 1) Ejaan Van Ophuijsen 2) Ejaan Republik Ejaan Republik adalah ketentuan ejaan dalam bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947 yang kemudian disebut juga dengan Edjaan Soewandi, 3) Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan Indonesia (Sebelum Tahun 1972) 4) EYD Revisi Tahun 1987-2009 Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan kebijakan /(policy) /melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tanggal 9 September 1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kembali Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan kebijakan/(policy) / melalui keputusan Menteri Pendidikan Nasional (ada pergantian nama departemen pada saat itu) yang mengeluarkan Permen (Peraturan Menteri) Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tanggal 31 Juli 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. 5) Ejaan Bahasa Indonesia revisi tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan Ejaan yang Disempurnakan adalah: o Penambahan huruf vokal diftong. Pada EYD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei o Penggunaan huruf tebal. Dalam EYD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus. PEMAKAIAN HURUF 1) Huruf vokal A I U E O 2) Huruf konsonan Semua huruf kecuali huruf vokal 3) Huruf Diftong Dalam huruf diftong terdapat huruf vokal gabungan yaitu ai,au,eo dan oi 4) Huruf Kapital 1. Huruf kapital yang digunakan pada awal kalimat - Kita harus bekerja keras. - Ibu selalu pergi ke pasar pada hari minggu. 2. Huruf kapital yang digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan - Sal Priadi - Dewa Pedang 3. Huruf kapital yang digunakan pada awal kalimat dalam petikan langsung. - Adik bertanya, “Kapan kita pulang?” - “Kemarin kamu terlambat masuk sekolah”, katanya 4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan serta kata ganti untuk kata Tuhan 5) Gabungan Huruf Konsonan Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan 6) huruf Miring 1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka. - Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan. - Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala. 2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat. - Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan lepas tangan - Dalam bab ini tidak dibahas pemakaian tanda baca. 3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing. - Upacaran Ngaben di Bali adalah upacara pembakaran mayat - Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana. 7) Huruf Tebal 1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring. - Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’. 2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab. - 1.1 Latar Belakang dan Masalah - 1.1.1 Latar Belakang - 1.1.2 Masalah - 1.2 Tujuan PENULISAN KATA 1) Kata Dasar Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan kalimat. Misalnya: • Saya pergi ke bioskop. • Rere jatuh dari sepeda. • Langit malam sangat gelap. 2) Kata Berimbuhan a) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai atau bersama dengan bentuk dasarnya. Misalnya: berlari gemetar bertani membaca tulisan bacaan b) Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti-isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis bersama dengan bentuk dasarnya. Misalnya: patriotisme seniman sejarawan manusiawi 3) Bentuk Terikat Bentuk terikat adalah jenis kata yang penulisannya selalu digabungkan dengan kata berikutnya. Misalnya: adibusana Infrastruktur proaktif durjana aerodinamika geofisika mahakuasa narapidana antarkota otomotif antibiotic semiprofesional mancanegara subbagian 4) Bentuk Ulang Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Misalnya: anak-anak biri-biri cumi-cumi hati-hati 5) Gabungan Kata Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, dan ditulis terpisah bagian–bagiannya. Kalau salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri dan hanya muncul dalam bentuk kombinasi maka penulisannya harus dirangkai agar menjadi suatu kalimat. Contoh : ▪ kata gabung bentuk kombinasi ▪ duta besar Pancasila ▪ daya beli tuna netra ▪ rumah bersalin antar kota Gabungan Kata yang sudah sebagai satu kata dan dianggap sudah padu ditulis serangkai sebagai satu kesatuan, seperti: manakala, matahari, sekaligus, daripada, hulubalang, olahraga, dan bumiputra. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara bentuk yang menjadi unsurnya. Pemberian tanda hubung pada kata tersebut, diletakkan di belakang unsur yang menjadi inti kata gabung tersebut. Contoh : Buku sejarah baru buku-sejarah baru buku sejarah-baru 6) Kata Ganti (ku, kau, mu dan nya) Kata Ganti (–ku, kau-, -mu, dan –nya) yang ada hubungan dengan aku, engkau, kamu dan dia ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Adapun kata aku, engkau, kamu, dan dia ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya atau yang mendahuluinya. Contoh: Bukuku, Bukumu, Bukunya, Kuambil, Kauambil. 7) Kata Depan (di, ke, dan dari) Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh : • Di mana Amir berada ? (jawabannya di sana atau di sini) • Ke mana Saudara pergi ? (jawabannya kesana atau kesini) 8) PemakaianAngka dan Bilangan Angka Romawi, penulisannya tidak menggunakan awalan (ke-). Kalau menggunakan angka biasa atau angka Arab, maka angka biasa tersebut disertai dengan awalan (ke-). Di samping itu ada cara lain yang dapat digunakan, yaitu semua bilangan tingkat itu ditulis dengan huruf (kata). Contoh: Penulisan Salah • Perang Dunia ke II • Abad ke 20 an • Di tingkatkedua Penulisan Benar • Perang Dunia Kedua • Abad kedua puluh • Di tingkat kedua 9) Pemenggalan Kata Pemenggalan kata pada kata dasar, sebagai berikut: a) Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vocal tersebut. Misalnya: - bu-ah - ma-in - ni-at - sa-at b) Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal. Misalnya: • pan-dai • au-la • sau-da-ra c) Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vocal pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu. Misalnya: a. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. • PT : Perseroan Terbatas • SD :Sekolah Dasar b. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik. • hlm : halaman • dsb : dan sebagainya 10) Kata Sandang (si dan sang) a. Kata (si dan sang) ditulisterpisahdari kata yang mengikutinya. Misalnya: Surat itu dikembalikan kepada si pengirim. Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli. Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik. b. Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan. Misalnya: -Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta. -Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa STRUKTUR KALIMAT DAN JENISNYA 1) Pengertian Kalimat sebagai satuan bahasa lebih besar daripada kata atau frasa umumnya muncul dalam tulisan atau pembicaraan berupa rangkaian kata yang menyatakan pikiran tertentu yang secara relatif dapat berdiri sendiri, dan intonasinya menunjukkan batasan antara sesamanya. Itulah yang disebut kalimat. 2) Bagian-bagian Kalimat Bagian inti yang harus terdapat pada kalimat adalah subjek (S) dan predikat (P). Bagian inti kalimat adalah bagian yang tak dapat dihilangkan dalam struktur kalimat. Subjek kalimat berfungsi sebagai inti pembicaraan, sedangkan predikat berfungsi sebagai penjelasan terhadap subjek, yang dapat dilengkapi dengan objek (O) atau keterangan (K). 3) Kalimat Tuggal Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada hakikatnya, jika dilihat dari unur-unsurnya, kalimat-kaliat yang panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada kalimat-kalimat dasar yang sederhana. 4) Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yanng terbentuk dari penggabungan beberapa kalimat tunggal yang setara kedudukannya dan menyatakan peristiwa yang terjadi secara berturut-turut atau dalam waktu yang bersamaan. Contoh kalimatnya sebagai berikut. • Ibu membeli sayuran dan buah-buahan. • Dia anak yang pemalas, sedangkan adiknya sangat rajin. 5) Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat merupakan kalimat yang terbentuk dari sebuah kalimat tunggal yang salah satu bagiannya mengalami perluasan atau penggantian. Contoh : • Ia berangkat ke Jakarta ketika aku sedang sarapan. (Kalimat majemuk yang diperluas) • Mereka tidak bias dating ke acara sebab kelas mereka belum berakhir. • Ibu menyarankanku untuk minum air putih yang cukup agar tidak dehidrasi. 6) Jenis Konjungsi Konjungsi atau kata penghubung dalam Bahasa Indonesia terdiri atas konjungsi intrakalimat, yaitu konjungsi yang terletak di tengah kalimat, dan konjungsi antar kalimat, yaitu konjungsi yang terletak di awal kalimat. Jenis konjugsi ini menentukan perlu tidaknya disisipkan tanda baca koma di dalam kalimat Konjungsi Intrakalimat • Konjungsi intrakalimat yang tidak didahului koma (agar/supaya, sehingga, karena, sebab, bahwa, dan, maka) • Konjungsi intrakalimat yang didahului koma (padahal, sedangkan, tetapi, yaitu, seperti, atau, dan) PENULISAN PARAGRAF 1) Pengertian Paragraf Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri dari beberapa kalimat dan kalimat tersebut harus disusun secara runtut dan sistematis. 2) Struktur Paragraf Berdasarkan fungsinya, kalimat yang membangun paragraf pada dasarnya terdiri atas dua macam, yaitu (1) kalimat topik atau kalimat pokok dan (2) kalimat penjelas atau pendukung. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok atau ide utama paragraf, sedangkan kalimat penjelas atau pendukung adalah kalimat yang berfungsi menjelaskan atau mendukung ide utama paragraf. Ciri kalimat topik : • Mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan lebih lanjut, • Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri, Ciri kalimat penjelas : • Merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti), • Arti kalimat ini baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf, • Pembentukannya sering memerlukan pembentukan kata sambung dan frase transisi, • Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik. 3) Jenis – Jenis Paragraf Berdasarkan fungsi dan wujudnya, pragraf dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) paragraf pembuka, (2) paragraf pengembang/penghubung, dan (3) paragraf penutup. source : makalah kelompok 2 resume nanda : bahwasannya ejaan bahasa indonesia sudah sangat banyak berubah dari masa dahulu dan semakin membaik hingga hari ini, dari ejaan belanda hingga ejaan indonesia moderen

Komentar